
Kabar saya baik. Setelah berbulan-bulan makan mie instant, akhirnya bisa juga saya beli komputer. Sebelum ini saya selalu ke rental komputer untuk
scanning gambar. Penyedia jasa
scan yang dekat kost memungut biaya Rp.2500 untuk satu kali
scan. Rasanya mau saya
tempeleng saja yang bikin harga segitu, mahal amat. Sudah tau saya miskin nggak punya
scanner, malah dipungut biaya tinggi. Biaya pindai citra (bahasa endonesa dari
scan image, yang malah tak familiar) mestinya cukup Rp.1500. Beruntung saya menemukan rental komputer merangkap warnet yang nyempil di pojokan BSD. Pungutan biaya
scan sesuai yang saya inginkan, tukang rentalnya sampai hafal saya sering ke situ. Karena tak punya komputer, saya mengedit komik saya di situ juga. Sayang pakai software bajakan. Tapi sisi baiknya jadi ada Adobe Photoshop di situ. Yah, harga murah memang bisa salah, di situ murah karena piranti lunak yang digunakan masih bajakan. Memangnya tak ada yang legal tapi murah? Ada, saya pernah mengerjakan komik di rental LINUX dengan program GIMP, hasilnya? Pekerjaan tak selesai plus mandi keringat dikejar tenggat. Untuk hal ini sementara saya pilih di rental bajakan.
Sebetulnya saya sering dicibir karena membeli vcd orisinil obralan. Dicibir oleh teman saya yang beli dvd bajakan. "Ngapain lu hari gini beli VCD? Gambarnya gak tajam tauk, mending beli DVD bajakan." Sudah beli bajakan, malah mencibir yang beli orisinil. Saking gemasnya kadang saya membayangkan menyelipkan keping dvd itu ke celananya kemudian menendangi pantatnya sampai DVD-nya remuk. Saya cuma beli film orisinil bila memang layak koleksi, beberapa VCD dan DVD orisinil memang memanjakan konsumennya dengan kemasan apik. eh, baru saja muncul DVD Iron Man, 2 disc edition. Casingnya berbentuk topengnya Iron Man. Keren. Tapi mahal, Rp.299.000,-. Ya itulah gak enaknya jadi kere.
Kendala saya menggunakan produk legal semata karena keterbatasan finansial. Dulu sewaktu mahasiswa, saya sering ke persewaan buku untuk fotokopi National Geographic. Majalah seharga Rp.50.000 itu jelas bikin mahasiswa Jogja yang cuma makan nasi kucing muntah darah. Dulu uang segitu bisa untuk bertahan hidup berhari-hari. Solusinya pacaran dengan gadis tajir cuma fotokopi. Biarlah foto-foto di majalah itu terfotokopi menjadi blok-blok hitam, tapi materi sainsnya bisa buat belajar. Lagipula karena fotokopian, memberi coretan stabilo di artikel-artikel itu bisa lebih 'tega'. Lha wong cuma kertas fotokopian murah. Setelah itu baru dijilid. Nah, saya punya referensi ilmiah yang murah sekarang. Saya punya prinsip, walaupun kere jangan sampai bodoh pula.
Jujur saya masih pakai software bajakan, tapi itu karena memang uang saya tak cukup beli yang asli. Si miskin tetap salah. Mungkin setelah pengakuan saya ini saya ditangkap polisi karena menggunakan produk bajakan, mau didenda juga saya tak mampu bayar. Mungkin semakin ditempiling karena tanya, "Memangnya Pak Polisi ga pernah beli mp3 dan video bajakan? Komputernya pake software orisinil? ". Saya sih selalu berusaha menggunakan produk legal kalau memang mampu. Bagaimana dengan Anda? Jangan takut memberi masukan, saya cuma akan menendangi DVD di pantat teman saya itu, bukan Anda.
Saya punya teman yang butuh referensi untuk tugas paper-nya, tetapi malang, sudah mencari ke perpustakaan dan warnet tak ada sumber yang cocok. Suatu saat ia duduk termenung di depan sebakul gorengan, uang sakunya habis di warnet, sisanya cuma cukup untuk makan siang nasi dan gorengan (saya dramatisir sendiri). Tak disangka di potongan koran yang jadi penutup gorengan itu ada referensi yang cocok jadi tugas paper-nya. Selalu ada jalan untuk yang miskin. Berjuanglah!