 |
 |
|
Friday, November 24, 2006
Welehh...udah ngetik banyak2 kok ya disenggol Roni! Hilang semua ketikan saya. Pokoknya bapak saya itu..hmm..dibilang warga sekitar aneh karena berangkat kerja menggunakan sepeda onthel, tapi pergi ke kios yang jaraknya dekat menggunakan sepeda motor. Ketika dibilang aneh, bapak berkelit, "Istri saya itu lebih aneh lagi!" Mengingat bapak, jadi terkenang masa kecil saya. Saya masih balita sewaktu mengikat tali sepatu bapak, dua sepatu terpilin menjadi satu. Padahal bapak buru-buru kuliah. Tumbuh besar sedikit, saya tumbuh jadi anak yang usil. KUping ini sudah berapa kali di jewer. Saya pernah dijewer sepanjang jalan dari rumah teman sampai ke rumah saya sendiri. Jurus lain bapak ialah cubit kamuflase, pura-puranya menggendong saya tapi tangannya mencubit, seraya berbisik,"Hayo...jangan nangis....ketawa!". Saya pun akhirnya tertawa dengan sangat terpaksa. (Mau dikomikin, sih ekspresinya gimana tapi kan wajah saya diorek-orek, kayaknya percuma :p). Bapak bilang saya ini anak durhaka. Jarang pulang. Entah apa yang saya cari. Februari kemarin saya memutuskan meninggalkan klinik hewan tepat saat ada dokter (hewan) di sana yang menanyakan saya mau jadi dokter tetap atau tidak. Saya pilih jadi buruh, dan bapak berkata, " Bapak bangga atas pilihanmu.." dan mengirim sejumlah uang sebagai sangu. Happy Birthday, Dad dan seperti biasa,Yah, kurangi ROKOKMU..
Posted at 02:19 am by dokter tito
Permalink
Wednesday, November 22, 2006
Posted at 12:01 am by dokter tito
Permalink
Monday, November 20, 2006
Vegetarian Merugikan Nelayan
Sabtu kemarin ketika sedang bercerita alasan saya tak bisa menguntal daging tiba-tiba diam tak enak mengajak saya berdiskusi. Diskusi ini dilanjutkan ke arena baru supaya bisa disaksikan Bergerak dan Ndobospol. Rupanya kalian berharap bisa melihat orang berantem ? Kita bicara ikan. Menjadi vegetarian supaya ikan terselamatkan. Tak makan ikan, akan memberi kesempatan mahluk itu untuk berkembang biak. Tetapi ikan tangkapan nelayan menjadi tak laku karena banyak manusia sok herbivor. Begitu kira-kira yang kita diskusikan (diskusi atau debat sih?).
Kemudian saya melantur soal Easter island, sebuah pulau di daerah pasifik yang menurut para ilmuwan pernah terjadi pemakaian sumber daya alam secara besar-besaran sampai hutan, tanaman, pangan & ternak ludes dipakai. Sialnya penduduk Easter island ini berada di lokasi yang terisolasi, sehingga pilihan terakhir untuk bertahan hidup adalah kanibalisme. Semua karena konsumsi berlebihan. Sok tahu saya. Lalu bagaimana nasib nelayan yang makin susah karena harga BBM yang menjulang? Keberadaan orang yang sok herbivor akan berdampak negatif pada penghasilan nelayan. Pekerjaan yang mengharuskan saya duduk manis berlama-lama diruangan membuat saya tak pernah ke daerah pesisir untuk melihat sendiri kesusahan nelayan. Nelayan jaman sekarang kadang tak melaut karena mereka merugi. Sudah utang untuk beli solar, sepulang melaut pun tak dapat ikan banyak. Hmm...di laut tak dapat ikan ? Kenapa? Jumlah ikan tak sebanding dengan jumlah nelayan? Karena ? Perusakan lingkungan, pencemaran? Populasi manusia membludak, semua mereka ambil. Saat ini bukan hewannya saja yang dimanfaatkan, tapi habitatnya juga tak tersisa. Saya bicara hak hewan dan dia bicara hak orang miskin. Orang hebat ini benar. Maaf, kalau saya mengusulkan bahwa harus ada generasi yang bersabar menunggu hewan-hewan itu berkembang biak dulu. Manusia-manusia itu mungkin tak akan bertahan. Tapi bila suatu saat jumlah ikan berlimpah pasti nelayan juga yang diuntungkan. Menjadi vegetarian selain hidup sehat juga akan mengurangi penggunaan sumber pangan asal hewan secara berlebihan. Meski saya akui kalau semua orang sok herbivor bisa runyam juga, sudah ternak bau melimpah dimana-mana, manusia juga akan kentut dimana-mana. Tapi populasi kaum vegetarian emang bisa banyak ? Tampaknya ada penonton yang tak puas kami berkompromi. Mungkin lain kali. Semoga bukan soal cewek :p. 
| Sebenarnya saya lupa pastinya sejak kapan tak mampu menikmati masakan daging. Mungkin karena saya waktu itu suka rewel tak mau makan lalu berkelanjutan sampai sekarang. atau kasihan. Atau memang benar sehabis diajak paman ke pasar hewan. Belajar anatomi mereka juga membuat saya semakin yakin rasa daging manusia tak jauh berbeda. *Sok tahu mode on* Tinggal bumbunya saja. Bicara soal bumbu, pernah baca resep-resep makanan vegetarian di blog Myrfa ? Lihat bajunya tuh? Mode jaman segitu, dulu belum ada kaos atari.
|
Foto: kayaknya punya paman, Februari 1985
Posted at 06:48 pm by dokter tito
Permalink
Thursday, November 16, 2006
Bekerja dengan sekelompok pekerja rendah hati. Itu yang saya rasakan ketika bertemu para tukang gambar di studio ini. Sebenarnya saya merasa tak pantas jadi kepala suku mereka. Mana pantas saya yang tak loyal ini memimpin sekelompok muda-mudi tangguh, dengan semangat berkobar bahkan mereka bekerja lebih baik dan lebih rajin dari saya, walaupun mereka tahu fee yang diterima tak seberapa. Kadang perselisihan saya dengan atasan membawa mereka menuju kondisi yang lebih buruk. Jadi sedih rasanya. Animasi digital sebenarnya memakan biaya lebih rendah dari animasi cel, tapi justru karena biaya yang rendah itu ada beberapa tahapan produksi tertentu yang diremehkan, tahap yang harusnya penting malah dilewati begitu saja. Maka jadilah kerja yang semrawut. Para buruh gambar ini terbukti bisa menerjemahkan naskah dan storyboard semrawut jadi animasi :D. Kadang mereka juga bisa bekerja tanpa kehadiran sutradara...Otonom banget, yak.Untuk memenuhi tenggat, mereka benar-benar harus pintar mengatur jam kerja dengan jam kuliahnya. Kasihan juga kalau lihat ada yang dipotong gajinya gara-gara tak bisa masuk kerja. Bersama mereka saya jadi tahu bahwa sehari-hari mereka ngiritnya setengah mati. Semua animator..eh buruh..berasal dari keluarga menengah ke bawah, jadi hal seperti itu wajar. Kadang ada yang terpaksa tidak makan malam sewaktu menginap di kantor. Mau pulang juga rumahnya jauh di Bantul. Jauh banget. Ngenes..mbok mangan to, le....SImbokmu iso nangis ning omah. Yang saya salut, anak-anak ini benar-benar tidak menghabiskan uangnya untuk rokok. Saya yakin, semua benar-benar digunakan untuk kebutuhan mereka. Sayalah yang paling boros, menghambur-hamburkan uang untuk sewa komik dan majalah. Namanya juga Jogja, kalau UMR tak rendah mungkin sega kucing (nasi dengan porsi perut kucing) tak akan populer. Tulisan ini bukan untuk mengemis simpati, tapi sebagai penghargaan kepada rekan-rekan sekerja saya yang optimis. Jadi, untuk menghargai karya mereka saya bantu-bantu mereka bikin blog. Lumayan daripada gambar-gambar itu menumpuk lantas membusuk di studio. Berjuang terus kawan. Menggambar lebih banyak lagi. Seperti animator profesional itu lho. Jangan pedulikan kata-kata miring mereka. People just don't trust what they can't explain. Tetap optimis. Ok, kalau anda sempat tolong kunjungi seiring.wordpress.com
Posted at 08:54 pm by dokter tito
Permalink
Beginilah begitulah! Revisi inilah revisi itulah! Lakukan inilah, lakukan itulah ! Saya tak mengerti satu-kata-pun yang anda ucapkan. Jadi, mohon demonstrasikan yang anda inginkan itu.
Anda tidak bisa ? Maaf kalau saya kurang respek pada anda, pak.
Posted at 12:00 am by dokter tito
Permalink
|
|

PROFIL DOKTER JAGA(L)
dokter titoMale Yogyakarta-BSD-Jakarta Lulusan bidang medis tapi jatuh cinta pada yang lain : komik. Soalnya aneh rasanya kalau harus menunggu pasien datang ke klinik supaya saya mendapatkan uang. Kesannya seperti berharap peliharaan seseorang jadi sakit (taruhan, pasti cuma perasaanku). Yang jelas hobilah yang membawaku ke dunia perburuhan gambar. Dunia tanpa istirahat ini tampaknya bisa jadi alternatif daripada bengong nunggu pasien.
JADWAL TERAPI
kliping terapikomik#1
MENGENDUS KATA
|
|