 |
 |
|
Monday, September 11, 2006
Sebelumnya maaf kalau saya mencuri shoutbox! Saya berpikir, toh shoutbox itu memang ada di ruang publik yang terpampang untuk setiap pengunjungnya, jadi tak masalah untuk mendokumentasikannya, tapi berhubung saya juga belum minta ijin masing-masing empunya shoutbox -apalagi pengisi shoutbox yang minta ampun banyaknya ini-, apabila mereka tak berkenan, saya bersedia mencabut posting ini.  Ada beberapa orang yang terlibat di sini, yaitu, Bebex, saya, Yoyok, Pitik, dan Dirac. Saya tak bilang kami semua bersepakat untuk saling sahut (baca:Shout!) lalu mengeroyok bebex. Saya sih cuma geram ulah bebex teroris yang suka mengebom blog, akhirnya saya memprovokasi sesama korban untuk menggoreng si pelaku pemboman. Sayang waktu itu bebex lagi masuk angin jadi....."duuut".... kami kena bom lagi deh.
Posted at 02:47 am by dokter tito
Permalink
Friday, September 08, 2006
Teman menyumbang, saya memakan.
 Hari
Kamis kemarin saya main ke pameran peringatan 1000 tahun Merapi yang
letaknya berseberangan dengan studio. Sebetulnya saya banyak pekerjaan
tapi karena seorang teman yang membuka stand di sana mengirim sms
minta dikunjungi, akhirnya saya meluangkan waktu. Teman saya itu, menggelar kursus menggambar dan clay modelling.
Lucu juga melihat gunung-gunungan dari tanah liat yang dibuat oleh
murid-muridnya. Memang banyak yang tidak berbentuk gunung, tapi
membayangkan anak 5 tahun yang membentuk tanah liat dengan jemari
mungilnya rasanya kok lucu. Kalau yang bikin sudah dewasa,kok rasanya
kurang nilai juangnya. Ah sok tahu saya, bikin saja tidak bisa.
Hasil dari penjualan tanah liat gunung ini 20%-nya untuk disumbangan
kepada korban bencana pasca gempa. Sementara teman saya menyisihkan
penghasilan pameran untuk disumbangkan, saya malah makan biskuit
sumbangan WFP (World Food Programme) di studio. Biskuit bantuan untuk
korban gempa Yogya. Nyaem!! Bantuan-bantuan ini bagaimana, ya, penyalurannya? Kalau saya sih dapat dari teman yang kasihan melihat saya kelaparan. (foto-foto berkualitas memble oleh dokter tito)
Posted at 06:35 pm by dokter tito
Permalink
Wednesday, September 06, 2006
Maunya sih dikasih warna tapi karena buru-buru hasilnya jadi suck. Sebenarnya sih malu juga mau pasang komik di sini. Whateverlah.
Kalau bagus juga pasti dimarahi klien.Aku lagi setres pak klien!
Ngeblog terus kerjaan
nggak kelar-kelar. Yang di sini thumbnails aja, ya. Kalau di resize
jadi 600 pixel tulisannya malah ngga kebaca. Btw, ini komik boong abis!
Nggak ada hubungannya dengan realita. Ogah punya teman kerja kayak
Sadako.
Posted at 08:10 am by dokter tito
Permalink
Tuesday, September 05, 2006
Selamat tinggal Pak Steve

"Crikey!" Ucapan khas Steve Irwin si Crocodile Hunter tak akan kita
dengar lagi live dari mulutnya. Sang naturalist telah tiada karena
tersengat ikan stingray
di bagian dada ketika sedang dalam proses pembuatan film serial
dokumenter barunya "Ocean's Deadliest" kemarin 4 September 2006.
Lokasinya di Great Barrier Reef. Kalau cuma Australia berarti perbedaan
waktunya kan nggak beda jauh dengan kita, ya? Pertama kali mendengar
berita ini dari bapak saya melalui sms tadi pagi. Jangan salah, kami
bukan kerabat Steve, cuma penggemar saja. Pernah nonton Crocodile Hunter 'kan? Waktu itu di televisi
swasta mana, ya? Sangat mengesankan melihat seseorang mempunyai
keberanian mendekati buaya besar dan ular beracun sambil mengoceh,
menjelaskan kepada pemirsa televisi dengan logat Australia yang kental.
Kayaknya kalau di televisi swasta sini di-dubbing. Steve sempat
diprotes gara-gara memberi makan buaya sambil menggendong anaknya yang
masih bayi. Tapi itulah Steve. Kalau disini orang lihat buaya atau ular
pasti langsung dikejar lalu digebuki. Kalaupun tertangkap hidup-hidup
pasti untuk dipertontonkan, biasanya di kampung-kampung penemuan yang
aneh begitu dijadikan penggalangan dana untuk pembangunan masjid. Buaya
dan ular mungkin mahluk yang paling kita takuti, tapi bentuk yang
mengerikan bukan alasan untuk memusuhi mereka. "Every chance I get, I will put my life on the line to save crocs."
kata Steve. Lebih berbahaya mana manusia dibandingkan buaya? Kalau
lebih berbahaya buaya coba hitung berapa banyak buaya yang dibunuh
manusia, kemudian bandingkan dengan jumlah manusia yang dibunuh buaya.
Pasti lebih banyak buaya yang dibunuh manusia. Tanpa sadar kita ini
menjadi mahluk yang paling ganas. Kalaupun mereka (hewan) menyerang,
itu juga karena mereka ketakutan. Saya pernah diprotes
penghuni rumah karena menangkap kelabang lalu membuangya ke halaman
bukan membunuhnya (lagi-lagi kelabang). Manusia memang egois, tak
pernah mau berbagi. Pernah saya bahas sewaktu menulis posting tentang tikus.
Jauh sebelum kita mendirikan rumah, flora dan fauna sudah duluan di
sana. Apa alasannya kita berhak mengusir mereka ? Di negara ini
lingkungan tak dihargai, beberapa tuan besar sok tahu seenaknya saja
membakar hutan, yang lain bila melihat ular digebuki, lihat burung
ditembaki. Sedih saya Pak Steve. Saya yakin walaupun meninggal disengat
stingray pasti ia tak mendendam. Dunia masih punya Rob Bredl, Jeff Corwin
dan yang lainnya tapi mereka juga pasti kehilangan. Kata pepatah 'Mati
satu tumbuh seribu'. Semoga makin banyak konservasionis di dunia
apalagi di Indonesia. Amin. (VCD Collision Course saya mana, ya? Jadi pengen nonton lagi.) foto diambil dari wikipedia.com
Posted at 11:12 am by dokter tito
Permalink
Sunday, September 03, 2006
  Hegh..fiuh..Hari
Sabtu kemarin saya mencoba naik sepeda (pancal) ke studio. Kalau bangun
pagi, mungkin jadi sehat. Soalnya polusi udara masih minim, & Yogya
masih sejuk. Tapi di hari itu saya bangun kesiangan. Maklum
mahluk nocturnal, (bangun
pagi tak pernah, seringnya pulang pagi). Bukannya menghirup udara
segar, saya malah menghisap emisi karbon sebanyak-banyaknya.
Hegh..hegh..Saya setuju, semakin banyak pengendara sepeda, bisa jadi
polusi udara semakin berkurang. Soalnya pengendara sepeda menghisap udara kotor tanpa memproduksi kembali. Paling-paling udara yang dihirup itu jadi abab, atau jadi kentut. Singkat kata, pengendara sepeda bisa menjadi reservoir karbon monoksida. Menurut saya dengan cara begini kok bukan pengendara sepedalah yang menjadi sehat. Saya takut mereka malah terkena anthracosis.
Penimbunan karbon di alveoli paru-paru. Boleh saja naik sepeda, tapi
kalau tak pakai pelindung hidung bisa jadi malah megap-megap. Keterangan kapan lajur sepeda ini muncul boleh dibaca di sini.
Orek-orekan cat di aspal bertuliskan "lajur sepeda" macam ini
menggelitik hati nurani. Meskipun realita berkata lain. Lajur sepeda
bukan untuk pengendara sepeda saja, tapi untuk parkir kendaraan
bermotor juga becak. Akhirnya pengendara sepeda harus keluar dari
lajurnya masuk ke jalan dengan resiko disambar bis kota yang terkenal
ngawur. Kapan lagi kita bisa menikmati udara bersih, berbadan sehat pula? Mumpung lagi kere(tapi tak kemplu),
saya terdorong untuk mencoba. Siapa tahu bisa sehat beneran. Walaupun
resikonya menghisap asap diesel, toh saya juga pernah menyemburkan asap
ke pengendara sepeda yang lain. Kali ini saatnya saya mencoba untuk
merasakan penderitaan mereka. Udah capek, kepanasan, masih juga diusir
klakson dari jalan raya. Mau nggenjot juga butuh tenaga akhirnya ngerem
pun itung-itungan, tak seperti mobil yang tinggal injak pedal gas dan
pedal rem. Tapi asyik juga, tuh. Irit duit! Kerja kok lebih semangat.
Bagaimana Sri Sultan? Katanya mau naik sepeda juga? NB: Mm,
mungkin yang bikin nggak sehat karena sorenya saya nggak
mandi...hiiiii. Cuek! Eh..buat yang titip foto kucing maap, ya.
Rencananya memang saya mau nengok cat festival tapi gagal. Ternyata
seharian malah tidur. Gimana, nih ?
Posted at 10:06 pm by dokter tito
Permalink
|
|

PROFIL DOKTER JAGA(L)
dokter titoMale Yogyakarta-BSD-Jakarta Lulusan bidang medis tapi jatuh cinta pada yang lain : komik. Soalnya aneh rasanya kalau harus menunggu pasien datang ke klinik supaya saya mendapatkan uang. Kesannya seperti berharap peliharaan seseorang jadi sakit (taruhan, pasti cuma perasaanku). Yang jelas hobilah yang membawaku ke dunia perburuhan gambar. Dunia tanpa istirahat ini tampaknya bisa jadi alternatif daripada bengong nunggu pasien.
JADWAL TERAPI
kliping terapikomik#1
MENGENDUS KATA
|
|