Sial kehujanan. Saya melepas kaus kaki dan memelintirnya supaya air yang terjebak di serat-seratnya mengucur. Saya di depan mall, dengan celana basah tergulung, dan bertelanjang kaki. Saya mirip ojek payung. Rasanya kepengen
misuh.
Hari itu tujuan saya adalah mengunjungi toko komik di mall Taman Anggrek. Bukan komik biasa, tetapi komik superhero terbitan Marvel atau DC comics. Minggu depannya tanggal 22-23 maret, akan diadakan Toys & Comics fair. Saya ingin bersiap mencuri start memilih komik dari sekarang. Komik Amerika punya arti buat saya dibanding komik jepang. Bukannya saya fanatik, tapi komik Amerikalah yang membuat tangan saya gatal menggoreskan pensil diatas kertas. Caranya menggambar otot dan kerut-kerut wajah lebih mengesankan, walaupun dalam segi karakterisasi, komik Jepang (manga) pun tak kalah. Well, komikus kita mungkin berkiblat pada luar negeri ketika berkomik, tapi tunggu saja gebrakan komik lokal sebentar lagi ;).

Back to the topic, karena saya ndak ngerti mall, maka saya dipandu gadis-gadis nan manis,
Juminten &
nona Nieke. Si kembar yang punya
keritingkentak
. Merekalah yang memandu supaya jempol saya tidak terjepit eskalator, tangga yang bisa naik sendiri itu. Lumayan, kadang waktu jalan kiri-kanan diapit cewek-cewek manis, sayangnya mereka sudah ada yang punya, ya. Dulu saya cuma ngomong biasa saja mereka sudah ngakak. Rupanya mereka ndak pernah ketemu orang yang ngomongnya medhok, sampai-sampai saya dijuluki
mas medhok. Menghina sekali, kapan-kapan saya ajak mereka ke pasar tradisional se-jawa tengah, biar mereka tahu di Jawa itu medhok semua. Sekarang komentar mereka, "Kok nggak terlalu medhok lagi sih, mas?". "Malu, di kantor sering diketawain.", saya mencoba jujur. "Di kantor, temanku bilang, kalau wajahnya masih polos dan ngomongnya medhok, bisa-bisa dirampok waktu jalan-jalan di UKI.", begitulah statement saya disambut cekakakan. Sial.
Lalu sambil bersantap mereka mengajari saya cara bilang, "Jaga mulut loe!", dengan cara yang keren. Saya seolah alien terbelakang yang sedang diajari bicara.
Tapi serasa keren juga, jalan-jalan di mall diapit gadis-gadis manis. Saya mimpi apa malam sebelumnya, ya? Di mall yang orang-orangnya wangi itu, cuma saya yang bau apek. Lha, baju saya kering sendiri sehabis kehujanan tadi. Tapi maaf, nona-nona, komik impor di boks obral itulah yang merangsang saya. Yup, antar saya menuju ke sana! Waw, kejutan, ada komik yang obral di sana. Mata saya berbinar ketika menemukan beberapa judul yang bagus di situ. Nah judul-judul yang saya taksir itu saya sembunyikan ditumpukan belakang, kemudian dengan hati riang saya menuju ATM di lantai bawah.

Sayangnya Nona Nieke pulang duluan ke kost, nah saya diantar Jumi kembali ke kios komik yang tadi. Walaa..si Jumi lupa di mana kiosnya. Setelah lelah naik turun ketemu juga akhirnya. Saya segera mengambil beberapa komik di boks obral.
"Ini beneran obral, mbak?", tanya saya kepada penjaga tokonya.
"Iya, mas". Jawaban seperti itulah yang saya tunggu- tunggu.
"eh..",
Waks. Kenapa si mbak bilang,"eh"?.Tidaak...jangan berubah pikiran. Jangaann.
"Maaf, mas, harganya sesuai dengan yang tertera di plastik. Emang kadang ada yang suka nyasar ke situ, padahal harganya normal."
Yaaa...hati saya langsung hancur berantakan. Pupus harapan saya melamar komik-komik keren itu. Sebel. Hujan-hujan tanpa hasil. Ya sudah, saya nunggu minggu depan saja. Doakan saya bisa nyolong komik di sana