Workshop Digital Film Maker
Kemarin Kamis disuruh boss untuk ikut Workshop digital film maker. Tadinya sih ogah -(workshopnya
Kamis sampai Minggu choy! Ntar kalau kerjaan gak selesai pasti dipotong
gaji lagi!)- Walapun ada Teddy Soeriaatmadja & Jon Ramlan, rasa
ogah tetap ada, tapi setelah ikut akhirnya jadi muncul rasa respect.
Sinematografi film-film sungguhan (bukan kartun) selalu dipusingkan
dengan lighting, penempatan & pergerakan kamera di tempat yang
sempit. Belum lagi kontinuitas setiap shotnya, karena adegan dilakukan berulang-ulang, kita bisa menemukan kejanggalan sepeti yang kita temukan di kolom "Bloopers" di majalah Cinemags.
Beruntung animasi bukan seperti itu, walaupun njlimet di pra produksi ,
kita nggak perlu susah memikirkan susahnya menempatkan kamera di
ruangan. Mau di ruang sempit kek, mau di air kek, mau di dalam tanah,
udara semua bisa suka-suka kita. Kita juga nggak perlu kalah sama
cuaca, lighting semua bisa diatur suka-suka, nggak seperti film
sungguhan yang butuh reflektor, lampu, white balance, dan semua
alat-alat mungil yang mahal-mahal. Tapi karena mudahnya itu orang-orang
disini jadi ngawur!!! Kemudahan dan nilai ekonomisnya membuat
rekan-rekan saya kurang memahami pentingnya tiap tahapan membuat film.
I wish, ....I wish ada teman saya yang juga menghargai keringat mereka
yang susah-susah ngangkat lampu, kamera, menata setting dan
teriak-teriak dan berkata di dalam hati, "..susah banget lu
angkat-angkat, gampangan bikin animasi, dudul!!". Walaupun kenyataannya
kita harus nggambar 25 lembar dalam satu detik.
Kata Teddy, "It's learning by doing!
Saya pun dulu juga mulai dari nol!". Learning is learning, bila kita
mau mengevaluasi diri atas kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat
dan berusaha memperbaikinya. Sebenarnya nggak cuma saya yang disuruh
ikut workshop, sebenarnya teman-teman satu studio disuruh semua, tapi
siapa saja yang berangkat? Do they Appreciate movies like I do?